Tengah malam aku terbangun. Rasa haus membuatku kebingungan, untung tenyata masih ada air sisa kemaren malam. Kuhabiskan lalu aku pergi kekamar mandi, mengambil air untuk dimasak.
Kemudian aku keluar kamar, duduk di kursi sambil menatap bintang yang berkilauan dan bertaburan di gelap angkasa. Suasana tampak melankolis. Ah, jakarta selalu membuatku lupa betapa indahnya alam ini. Tehnologi dan yang namanya peradaban itu semakin memisahkanku dengan alam.Menurutku, manusia sudah melangkah begitu jauh. Padahal seandainya tidak ada alam, betapa sepinya kita.
Aku jadi teringat dengan teman bermainku di rumah. Saat kami berjalan-jalan ke atas bukit sore hari. Atau pergi ke sumber mata air untuk mandi atau sekedar jalan-jalan santai. Tidak sebersih kolam renang memang, Namun rasa indahnya, tidak mungkin bisa diciptakan dengan tehnologi manapun. Memang, banyak temanku yang berkata bahwa dirumah, aku akan ketinggalan informasi. Informasi adalah salah satu identitas dari modernitas. Untuk bisa bertahan di dunia modern, aku memang selalu di tuntut untuk mengikuti perkembangan informasi. Yah, kupikir temanku memang benar. Kita sudah terjebak didalamnya, maka kita harus bermain dengan aturan yang ia tentukan.
Malam semakin larut, kenaifan lampu jalanan tetap tidak bisa menandingi keagungan purnama malam ini, segalanya menjadi tampak syahdu. Ada perasaan rindu di hati untuk segera pulang. Perasaan itu begitu menekan pusat hatiku.
Aku masuk kamar tanpa menyalakan lampu. Kegelapan ini, biarlah menjadi kebijakan leluhur yang menyerap di dalam jiwaku. Aku berusaha menahan kerinduan ini dan menenangkan pikiranku sampai akhirnya ku tertidur.